Rai gedex
AKSARA: Penjaga stand lembaga adat menjelaskan Aksara Besema Ulu yang dipamerkan digelaran Besemah Expo, inzert aksara Besemah Ulu.
Berkunjung di pameran Besemah Expo Akan banyak membuka mata kita tentang Kebudayaan Bumi besemah. Selain Kebudayan tari - tarian dan ukiran kayu, ternyata Pagar Alam juga mempunyai Aksara sendiri. Ini menunjukan bahwa masyarakat Bumi Besemah sudah mengenal Baca dan Tulis sejak dahulu. Ini terbukti dengan adanya aksara- aksara kuno yang konon masih ada yang mampu membaca aksara - aksara Kuno tersebut. yaitu masyarakat asli Besemah. Seperti yang di katakan oleh Ketua Lembaga Adat Besemah H Amran “Disejumlah desa di Kota Pagaralam khususnya penduduk asli yang umurnya telah uzur diatas rata-rata 70 an tahun diyakini masih ada yang fasih melafadzkan aksara Besemah Ulu ini,”.
Hanya saja, saat disinggung berapa banyak jumlah yang fasih membaca aksara besemah kuno ini? Jawabnya, dia sendiri belum bisa memastikan berapa banyak orangnya.
Dikarenakan, pihak Lembaga Adat sendiri belum melakukan pendataan secara detail. Kendati demikian, tidak luput jangan sampai peninggalan sejarah Besemah, pihaknya telah mendokumentasikan ejaan aksara yagn dimaksud. “Kita tidak ingin aksara besemah ulu tidak ada yang bisa memahaminya, apalagi sampai memudar dan tenggelam seiring kemajuan zaman,” tukasnya.
Karena itu, belakangan ini lembaga yang cukup prihatin akan keberadaan adat serta peningalan budaya besemah telah meluncurkan buku aksara Besemah Ulu termasuk menerbitkan sekaligus memperbanyak cetakan buku yang berjudul Kumpulan Adat Besemah. Selain Lembaga Adat, keprihatinan adat besemah ini juga tidak terlepas perhatian dari pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pagaralam.
Selain adat, seperti peninggalan rumah adat dibedakan bentuk gilapan, tatahan (rumah ukir, red), dan prabong (rumah gedeg, red) yang hingga saat ini masih ada. Guna kelestarian rumah adat, beberapa dusun disebut dusun tua atau ditetapkan sebagai kampung sejarah. Semisal, Dusun Benua Keling Dempo Selatan. Dahulunya, menjadi pusat Keratuan Besemah kononya yang kemudian pindah ke Dusun Sawah Batuan di kawasan Simpang Manak sekitar abad ke 13 dan baru sekitar era 1630 pusat pemerintahan ini masuk dalam sejarah Kesultanan Palembang.
“Dahulunya, Kolonial Belanda menyebutnya Besemah Kingdoom, sejarah ini tentunya harus diketahui keturunan kita saat ini,” urai Satarudin.
Karena itu, Satarudin mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kelestarian minimal mengenal adat dan peninggalan sejarah Besemah. “Harapan kita adat besemah jangan sampai memudar apalagi hilang ditelan zaman,” ulas Satarudin.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lahat menanggapi secara positif adanya penemuan kampung megalitik di Desa Skendal Kecamatan Pajar Bulan oleh pihak Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi. Kendati hingga saat ini BP3 Jambi sendiri belum melakukan koordinasi langsung dengan pihak Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Lahat.
Kepala Disbudpar Sri Muliati SH MM mengatakan, situs-situs bersejarah ataupun benda-benda kuno yang ada di seluruh wilayah Indonesia merupakan aset nasional. Sehingga, dalam hal ini penemuan kampung megalitik di Desa Skendal akan menjadi hak dan tanggung jawab BP3 Jambi sebagai balai pelestarian purbakala yang meliputi wilayah kerja Jambi, Sumatera Selatan (Sumsel), Bengkulu dan Bangka-Belitung (Babel). Namun demikian, sudah selayaknya jika pihak BP3 Jambi memberikan laporan ataupun koordinasi dengan Pemerintah setempat sebagai pemilik wilayah.
“Memang tidak ada aturan bakunya, jika pihak BP3 Jambi harus melapor kepada Pemda ataupun Disbudpar jika adanya penemuan. Namun etikanya, alangkah lebih baik jika ada laporan kepada kita sebagai pemilik wilayah,” katanya.
Sri mengakui, saat ini memang belum ada anggaran khusus yang dialokasikan dari anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) Lahat sebagai biaya pengelolaan dan perawatan untuk situs-situs megalitik ataupun benda-benda bersejarah lainnya. Namun, sejauh ini pihak Disbudpar Lahat selalu berupaya membantu biaya pengelolaan lainnya, di luar perilaku terhadap benda tersebut. Seperti biaya pengecatan pagar, biaya kebersihan lokasi, dan lain-lain.
“Memang sejauh ini belum ada anggarannya. Tapi kita tetap berupaya membantu dalam skala kecil, khususnya dalam perawatan fasilitas penunjangnya. Karena memang pengelolaan dan perawatan untuk situs megalite ini utamanya dari pihak BP3 Jambi” ungkapnya lebih lanjut kepada Lapos.
Nah, terkait adanya rencana relokasi situs-situs megalit dalam satu kawasan oleh pihak Pemda, hal ini tidak diperkenankan oleh pihak BP3 Jambi. Sebab, sesuai dengan aturannya semua situs-situs megalit dan semacamnya tidak boleh dipindahkan dari lokasi aslinya, kecuali dalam keadaan darurat seperti rawan erosi, terancam hilang, dan rawan rusak.
Bahkan, pemindahan ini juga harus dilakukan sesuai dengan detail aslinya. Seperti arah situs, posisi peletakan, cara menggali, dan lain-lain. Untuk itu, jika ingin mengumpulkan situs megalitik dalam satu kawasan maka lebih disarankan untuk membuat duplikatnya. Dalam hal ini, pihak BP3 Jambi bersedia menyediakan tenaga ahlinya, sementara Pemda menyiapkan dananya.
“Jadi tidak bisa sembarangan, karena kalau sudah dipindahkan kemungkinan rusaknya besar. Selain itu, pembangunan situs megalite pada zaman dahulu sarat akan makna ritual. Maka jika sudah di relokasi maka nilai sejarah dan ritual itu akan hilang. ” papar Sri.
Terpisah, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lahat, Herliansyah SH mengungkapkan, pihaknya sangat senang dengan ditemukannya kampung megalitik ini. Sebab, hal ini akan semakin memperbanyak temuan benda bersejarah di setiap wilayah Sumatera Selatan, khususnya Kabupaten Lahat.
“Diharapkan, kampung megalitik ini sendiri dapat di kelola dengan baik sehingga kedepan dapat menjadi kawasan pariwisata budaya dan sejarah. Bahkan, lanjut dia, jika memungkinkan pihaknya kedepan dapat mengajukan usulan anggaran khusus dalam APBD Kabupaten Lahat guna mendukung pengelolaan dan perawatan situs-situs tersebut,” ulasnya.
Nah, agar penemuan kampung megalitik ini dapat disikapi secara postif oleh pihak Pemkab Lahat dengan berkoordinasi dengan pihak BP3 Jambi dan dinas terkait lainnya. Sehingga, penemuan kampung ini dapat lebih memberikan banyak manfaat dalam bidang seni budaya dan edukasi. “Koordinasi jelas harus lebih dibangun lagi kedepannya. Ini semua demi kemaslahatan dan perkembangan dunia kepariwisataan Lahat kedepannya,” pungkas Herliansyah.
SITUS: Situs batu berelief menyerupai wanita berperut buncit seperti sedang menari ditemukan di Dusun Pajar Bulan Kecamatan Pajar Bulan, kemarin (14/4).
Kembali batu berelief menyerupai wanita berperut buncit di tangan kirinya tengah memegang tanduk rusa, yang ditemukan di halaman rumah warga beberapa waktu lalu di Dusun Pajar Bulan Kecamatan Pajar Bulan Kabupaten Lahat, diduga melukiskan wanita tersebut tengah menari.
Ketua Tim Peneliti Balar Palembang Kristantina Indriastuti memaparkan, temuan tersebut merupakan temuan baru dan menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut, oleh karenanya, akan melakukan penelitian lebih dalam.
“Ada dua temuan batu megalit yakni batu datar dan batu berelief persis di halaman rumah warga milik Amir Hamzah. Setelah dilakukan penggalian, ditemukan sebuah situs batu berelief menyerupai wanita dengan perut buncit tengah menari tangan kirinya tengah memegang tanduk rusa,” tegas dia disela penggalian.
Situs megalit itu merupakan batu jenis andesit merupakan batu keras atau tidak mudah hancur. Karena, usia situs batu ini diperkirakan berumur lebih kurang 2500 tahun yang silam.
“Artinya, dengan adanya temuan berbaga situs ini bisa disimpulkan bahwa dahulunya kawasan Pajar Bulan ini telah ada kehidupan manusia pada masa ribuan tahun silam,” terang dia memaparkan.
Yang jelas, adanya bentuk relief situs, pada zaman itu telah mengenal budaya setidaknya telah mengenal penggunaan logam semisal besi, tegasnya. Lebih jauh Kristantina mengatakan, saat disinggung jumlah sementara situs yang berhasil ditemukan oleh tim arkeologi di kawasan ini? Jawabnya yang terbanyak temuannya sepanjang penelitan peninggalan purba yang dilakukan di sejumlah daerah.
Bayangkan, pendataan yang dilakukan sejauh ini pihaknya telah menemukan sedikitnya 223 temuan batu megalit yang baru, yang terdiri dari menhir atau tugu batu, dolmen, batu berelief, batu datar, dan tetralit batu gelung. Kemudian pihakya juga menemukan beberapa peninggalan alat yang digunakan untuk mengolah hasil bumi seperti lumpang batu dan lesung batu.
“Hari ini masuk hari keenam, tim kita berhasil menemukan 223 situs, terdiri 113 situs berupa batu datar, 62 situs dolmen, 13 lumpang batu, 20 lesung batu, satu menhir, 3 kelompok batu gelang dan 12 kelompok tetralith. “Batu gelang dan tetralith sendiri merupakan temuan batu bersusun melingkar menggambarkan tempat pertemuan,” demikian urainya.
Sedikitnya 30 lebih situs purbakala berupa batu megalit di Dusun Pajar Bulan Kecamatan Pajar Bulan Kebupaten Lahat kembali ditemukan oleh Tim Peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Palembang yang diketuai Kristina Indriastuti.
Dari hasil temuan itu, tim menarik kesimpulan, wilayah Pajar Bulan diduga sebagai tempat pemukiman kuno. Hal itu dibuktikan dari berbagai temuan berupa batu datar yang membentuk tempat pertemuan atau balai sidang.
Namun, untuk memastikan kesimpulan tersebut, tim masih melakukan penelitian lebih lanjut. “Belum bisa dipastikan, namun dugaan tim arkeolog yang bertandang kali ini kuat dugaan Pajar Bulan merupakan lokasi pemukiman kuno,” tegas Kristina.
Sementara, apa yang tersimpan di balik berbagai situs yang ditemukan di tanah Basemah tersebut, tidak menutup kemungkinan kalau daerah tersebut merupakan pusat pemukiman zaman dahulu.
Puluhan temuan situs megalit yang telah terangkat ke permukaan, tambahnya. Khususnya di Pajar Bulan, seperti situs berupa Batu Datar 23 buah, Dolmen 2 buah, Batu Tegak 3 buah, Menhir 2 buah, 1 Lumpang Batu dan Tetralet atau tempat pertemuan sebanyak 3 buah.
Temuan Megalit di daerah Pajar Bulan tersebut merupakan temuan baru yang menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. Bayangkan, hari pertama penelitian sendiri, pihaknya sudah menemukan 30 lebih berbagai jenis batu megalit.
“Kondisi yang ada bukan tidak mungkin, merambah temuan situs megalit lainnya, betapa tidak masih banyak lokasi yang diduga tersimpan situs megalit di daerah sini,” beber Kristina.
Dalam penelitian yang dilakukan Tim Balar Palembang, melakukan dua kegiatan penting yakni survei temuan dan Axavasi. Axavasi yakni penggalian beberapa situs yang menunjukan indikasi ada temuan lain seperti kubur batu, ataupun temuan-temuan baru.
“Tidak hanya meneliti temuan megalit di Pajar Bulan, tidak terlepas perhatian mereka juga meneliti temuan megalit di Pagaralam. Yakni, Punden Berundak-Undak atau Tangga Batu dan Arca Tanpa Kepala di Cawang Baru yang semapt diekspos belum lama ini,” beber Kristina.
Terpisah, Balai Perlindungan Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi (Sumatera Selatan, Jambi dan Babel) juga bagian tim penelitian saat Tim Balar ke lokasi. Koordinator BP3 Jambi Ahmad Rivai menembahkan, masih banyak yang terpendam peninggalan benda purbakala.
Sisi lain keberadaan benda purbakala yang telah diangkat dan teliti sebagian kondisinya tidak terawat, ada yang telah berpindah tempat loaksi situs.
“Mirisnya, temuan lokasi situs terkadang dilakukan terlebih dahulu dilakukan masyarakat untuk kepentingan tertentu yang diyakini ada benda berharga tidak beda layaknya harta karun. Terkadang, posisi awal ataupun sebagian benda situs diduga mengalami perubahan,” pungkas Rivai beberapa waktu lalu.
Kembali Kota Lahat mendapatkan Piala KebersihanYaitu Piala Adipura. Rencana nya pada 18 Juni 2010 mendatang, kalau tak ada aral, pihak pemerintah daerah (Pemda) Lahat bakal mengarak Piala Adipura tingkat Nasional dan Provinsi, Beserta dua Kalpataru.
“Insya Allah, kalau tak ada aral, 18 Juni Piala Adipura yang berhasil kita pertahankan berikut lima penghargaan dari tingkat provinsi turut serta dalam Pawai keliling Kota Lahat,” katanya Saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (15/6).
”Start dimulai di halaman Pemda Lahat menuju Jalan Kolonel H Burlian, Talang Jawa ke arah Masjid Al Mutaqqin, dilanjutkan ke Jalan Prof Emil Salim, kemudian belok ke kanan menuju Jalan Harun Sohar langsung ke Perumnas Selawi, berbalik arah ke Jalan Amir Hamzah keluar lagi di depan Hotel Buser, diteruskan menyelusuri sepanjang Jalan Mayor Ruslan hingga masuk ke Jalan RE Martadinata ke Tugu Lembayung dan kembali ke Pendopoan Bupati Lahat,” urai Erwan.
Ia mengharapkan, sekiranya keanekaragaman hayati dan masa depan bumi ini dapat dijaga dan dilestarikan dengan sebaik mungkin, sehingga dapat menumbuhkan kesadaran rakyat dan peduli akan lingkungan.
“Ciptaan tuhan yang tidak bisa diganti apabila punah. Oleh sebab itu, hal-hal yang demikian dapat diterapkan menjaga dan melestarikan segala ciptaannya, baik itu yang dapat diperbaharui maupun tidak,” tutur Erwan.
Erwan menambahkan, tentunya kearifan lokal menjadi faktor penunjang dalam mendukung segalanya, sehingga Kabupaten Lahat kembali asri, teduh, sejuk, dan nyaman seperti dulu kala.
“Untuk itulah, Bupati Lahat setiap kali berkunjung atau menghadiri acara diperdesaan atau kecamatan selalu melakukan penamaman pohon, dalam mewujudkan Bumi Seganti Setungguan Green and Clean (Hijau dan Bersih), di sesuaikan dengan tata wilayah yang ada di Lahat tercinta ini,” pungkasnya. Mudah – mudahan di satu sisi Tambang Mengeruk isi Perut bumi seganti setungguan ini. Juga Peduli untuk melakukan reboisasi kembali. Sehingga Bumi Lahat kedepan akan tetap Hijau, Asri, dan Nyaman tentunya. Lahat .... Smoga kedepan semakin sukses.
Bunga raflesia, atau biasa disebut juga bunga bangkai. Bagi masyarakat Pagaralam menyebutnya bunga kerugbut. Ternyata Bunga yang Menjadi ikon Kabupaten Bengkulu Dapat juga tumbuh di daerah berhawa dingin ini. Bunga tersebut tumbuh subur di tanah Pagaralam, tepatnya di Dusun Petani Kelurahan Alun Dua Kecamatan Pagaralam Utara.
Penemuan Kali ini adalah Untuk ketiga kalinya. Tanaman memiliki bahasa latin Rafflesia Arnoldii diambil dari nama si penemunya, tumbuh tidak jauh dari pemukiman warga tepatnya di aliran siring / got sebuah kebun kopi milik warga setempat.
Kendati belum mekar penuh, keindahan bunga cukup menakjubkan. Terdapat kelopak kembangnya masih kuncup, tingginya lebih dari orang dewasa atau sekitar 2 meter berdiameter sekitar 0,5 meter.
Tanaman ini merupakan tumbuhan Parasit obligat, yang terkenal memiliki bunga berukuran sangat besar, bahkan bunga terbesar di dunia Ciri lain, tidak memiliki daun sehingga tidak mampu Berfotosintesis. Tumbuhan ini Endemik di pulau Sumatra, terutama bagian selatan (Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan).(Berbagai sumber)
Bunga tersebut pertama kali ditemukan oleh Abu (40), warga Kampung Purwasari Kelurahan Beringin Jaya Kecamatan Pagaralam Utara saat dirinya sedang mancing ikan di sekitar aliran siring tersebut, pada Kamis (27/5) sekitar pukul 16.30 Wib. “Saat itu niatnya ingin mancing, tidak sengaja menemukan bunga kerugbut ini. Kondisnya sudah besar tapi belum mekar,” aku Abu.
Tetapi ada keanehan dari bunga kerugbut tersebut, sebelumnya dirinya melintas di lokasi belum ada bunga tersebut dua hari sebelum menemukan bunga itu. Dia juga mengaku, bunga jenis Raflesia ini memang terkenal tumbuh di daerah Bengkulu. Melihat keberadaan bunga raksasa ini, sempat mengurungkan niatnya mincing. Dan langsung melaporkan kepada warga lainnya. “Saya benar-benar terkejut, padahal 2 hari lalu sebelumnya tidak ada, kok tiba-tiba bunga ini sudah tumbuh,” ungkapnya.
Sementara itu, Nata (24) warga Dusun Petani mengaku, penemuan bunga raflesia yang di daerahnya tersebut sebelumnya sudah pernah terjadi beberapa tahun silam. Bahkan bunga bangkai ini sudah tiga kali ditemukan warga di daerah ini. “Penemuan bunga ini bukan yang pertama kali terjadi. Karena sebelumnya beberapa tahun silam, yakni pada tahun 1957 dan 1986 sudah pernah ditemukan warga,” akunya.
Informasi ini, berdasarkan keterangan para sesepuh setempat. Terakhir untuk ketiga kalinya baru-baru ini, ditemukan kembali oleh Abu di lokasi yang sama tidak juah dari lokasi sebelumnya sekitar 50 meter.
Kendati bunga ini tumbuh di daerah dingin, diperkirakan umurnya tidak bertahan lama. Sebab yang sebelumnya juga sudah tumbuh di daerah tersebut, setelah berkembang akhirnya layu sendiri. Biar aman dan tidak rusak, sekeliling bunga ini dipagari oleh warga.
“Belum tahu berapa umur bunga ini, guna melihat lebih jauh keberadaanya, warga bersama karang taruna di dusun ini membersihkan di sekitar lokasi penemuan bunga, agar warga lainnya bisa langsung melihat keberadaan bunga langka tersebut,” pungkasnya.
Keindahan alam Kota Pagaralam sungguh menyuguhkan pesona, satu persatu dari puluhan cughup lebih akrab disebut air terjun mulai terkuak yang selama ini bersembunyi dibalik perbukitan. Kami Lebih Lebih suka menyebutnya Niagra Kecil. Cughup ayek nyembur, tumpahan air yang menghempas diatas bebatuan cadas dari ketinggian sekitar 50 meter dengan arsitekturnya yang bertingkat-tingkat belum lagi liang goa di dinding air terjun ini menjadikan ciri khas tersendiri, yang berlokasi di Dusun Talang Kubangan Kelurahan Kance Diwe Kecamatan Dempo Selatan.
Awal perjalanan, hunting air terjun yang dimaksud rutenya dimulai sebelum memasuki lokasi dusun, belum ada akses jalan khusus menuju kesana. Dari sisi jalan aspal dusun memasuki perkebunan kopi milik warga. Dalam perjalanan sekitar 2-3 pondok dan menyisiri puluhan hektaran kebun kopi yang berada di perbukitan ini pada siang itu.
Lokasi sekitar 45 menit ke lokasi ini dari pusat Kota Pagaralam, akses jalan tidak begitu jauh tidak lebih 1 Km dari jalan aspal. Namun, jarak ini rute yang kami lalui dan sedikit dihadapkan tantangan medan melewati perbukitan terjal. Kendati demikian, kepuasan tiada tara tidak terlepas selama perjalanan disguguhken pemandangan saat kru tiba persis diatas bukit yang menyajikan bentangan pemandangan hutan perbukitan.
Sebenarnya tidak jauh, namun medannya cukup menantang khususnya bagi berjiwa petualang. Sekitar 20 menit perjalanan ditempu jalan kaki dai jalan aspal. Seratus meter mendekati lokasi ini sudah terdengar deru hempasan air tejun, yang terlebih dahulu kita melintasi anak sungai persis diatas air tejun sebelum turun ke bawah.
Sungguh indah, sumber suara air terjun yang kian keras, seakan mempercepat langkah kaki untuk segera menghampirinya. Masih sangat perawan betapa tidak, lokasi air terjun yang berada di perbukitan ini masih terlihat alami dengan rimbunan pohon menyesaki loaksi ini. Bahkan, p0ancaran mentari seakan tidak diberikan ruang oleh dahan-dahan pohon yang ada untuk menerangi dasar air terjun yang berupa batuan cadas bahkan ada yang berukuran besar.
Berdiri kokoh pohon mungkin diamater lebih dari dua meter, pastinya sangat tua sekali jenis beringin yang berumur ratusan tahun, yang membuat teduh lokasi dari terik mentari. Belum lagi, bak tangga batu bersusun cukup memudahkan untuk merayap sejengakal demi sejengkal menyentuh dinding air terjun ini. Sedikit lebih tinggi merayap, dirasakan, tumpahan air tejun ini menghempas tubuh sedikit tidak begitu dirasakan jka dibandingkan hempasannya saat kita berada dibagian bawah.
Alam yang masih sangat alami dan belum terjamah banyak tangan manusia menambah kebetahan. Keunikannya, selain belum tersentuh masyarakat luar, tiada bandingannya dengan puluhan air terjun yang adua di Kota Pagaralam. Sebut saja, seperti Air Terjun Lematang Indah, Air Terjun Curup Embun, Air Terjun Curup Mangkok, dan air terjun lainnya.
Tak salah kiranya, kendati tidak menyisiri hingga detail ke bagian puncak yang memiliki dua muaranya, namun detail setiap bongkahan dinding cadas bertingkat membuyarkan tumpahan air sehingga layaknya semburan air yang tersusun rapi. Sehingga percikan airnya membrikan kilau sesekali tampak lembayung kecil kerap terlihat dari berbagai arah di air terjun ini.
Masih dalam keasliannya, rerimbunan hutan diselilingi air terjun terang di hilir air tejun ini juga masih terdapat curam dengan bongkahan batu besar, yang juga bagian dari tingkatan air terjun ini. Jika dicermati dibagian dindingnya juga terdapat liang goa, yang cukup besar diameternya. Sekilas tidak terlihat, karena tertutup dahan-dahan dedaunan pohon.
Seperti halnya di paparkan Ketua RT Talang Kubangan Khaidir, dia mengaku tidak banyak yang mengetahui keberadaan cughup ayek nyembur ini apa lagi orang luar. Lihat saja, kondisinya masih rimbun sekali dan gema hempasan air terjun sangat keras sekali lagi.
“Sayangnya air terjun ini belum di ketahui orang banyak dan belum di lengkapi berbagai fasilitas, kalau sudah banyak yang tahu saya yakin akan banyak yang berniat melihat ke sini,” ujar Khaidir.
Menurutnya sebenarnya awal mulanya ditemukannya air terjun ini, ketika warga di sana sering mancing ikan sungai dan saat itulah secara tidak sengaja ketika menyusuri sungai ditemukan ada air terjun. Bentuknya yang unik dan sangat menarik membuat dirinya memberitahukan kepada orang banyak, namun karena belum ada jalan yang layak untuk menujunya membuat banyak orang terutama warga setempat mengurungkan niat untuk menyaksikannya.
“Sebenarnya belum ada rute khusus menuju ke air terjun, hanya saja baru-baru ini sengaja kami dan warga setempat membuat jalan ala kadarnya ke lokasi, tidak lain agar bisa dilalui” terang dia.
Beberapa jam melepas penat di lokasi air terjun yang tebarkan pesona ini, tidak dilepaskan kesempatan untuk bermandi merasakan sejuk hawa dan dinginnya tumpahan airnya sembari duduk diatas cadas.Berlanjut, mengabadikan untuk berfoto di lokasi ini yang dilanjutkan perjalanan pulang kami tanpa terasa karena hari mulai petang. Perjalanan pulang sengaja tidak melintasi rute awal, tetap saja tidak terlepas suguhan panorama alam perbukitan tidak terlepas kejapan mata. (*)
Danau Tiga Warna Salah satu situs danau di Pagar Alam. Alam kini Menyembunyikanya, tak ada perhatian dari pihak terkait untuk mengeksploitasi pesona keindahan Danau tiga Warna ini. Kondisinya sekarang di tumbuhi semak belukar. Mungkin karena kondisinya yang jauh dari pemukiman penduduk,(16 Jam dari Kampung terdekat, di tempuh jalan kaki) ini yang membuat pihak terkait enggan mengurusi Danau di atas bukit barisan ini. (Yost)












